Jakarta, 30 April 2025 — Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII) menyelenggarakan forum bertajuk Introduction to PRI Implementation, bekerja sama dengan Principles for Responsible Investment (PRI), lembaga global yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menjadi pelopor utama dalam promosi investasi bertanggung jawab. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 30 April 2025, secara luring di kantor APRDI, Bursa Efek Indonesia, dan dibuka secara resmi oleh Ketua APII, Ibu Muthia Iskandar. Forum menghadirkan James Robertson, Head of Asia (ex-China & Japan) dari PRI, sebagai narasumber utama.
Acara ini bertujuan memperkuat pemahaman dan kapasitas anggota APII dalam menerapkan prinsip investasi bertanggung jawab (responsible investment) yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance atau ESG) dalam praktik pasar modal. Dalam paparannya, James Robertson menjelaskan bahwa pendekatan responsible investment bukan sekadar aspek reputasi, melainkan strategi utama dalam pengelolaan risiko dan penciptaan nilai jangka panjang bagi investor institusional maupun ritel. Dua pendekatan utama yang ditekankan adalah ESG incorporation, yaitu integrasi faktor ESG ke dalam riset dan konstruksi portofolio, serta active stewardship, yakni pelibatan investor dalam dialog strategis dan pemanfaatan hak suara (proxy voting) sebagai pemegang saham.
Forum ini juga membahas tren terkini berdasarkan pelaporan dari lebih dari 3.000 signatory PRI secara global. Tercatat bahwa lebih dari 80 persen aset kelolaan telah mempertimbangkan risiko iklim secara eksplisit, sementara 65 persen diantaranya telah mengambil tindakan nyata terhadap hasil keberlanjutan. Tren lainnya meliputi peningkatan integrasi ESG ke dalam kontrak investasi, fokus pada isu sosial seperti hak asasi manusia, serta perluasan praktik stewardship ke pasar privat melalui pencantuman klausul ESG dalam limited partnership agreements (LPA).
Sesi tanya jawab dalam forum berlangsung secara interaktif dengan dua fokus utama yang mencerminkan kesadaran kritis peserta terhadap dinamika investasi berkelanjutan. Pertama, anggota APII menyoroti strategi yang dapat dilakukan oleh investor ritel dalam mendorong praktik ESG pada perusahaan portofolio. Menanggapi hal ini, PRI menjelaskan bahwa meskipun skala kepemilikan mereka terbatas, investor ritel tetap memiliki peran penting melalui partisipasi dalam platform kolektif seperti Tumelo atau Follow This, penggunaan hak suara (proxy voting), serta pemilihan produk investasi yang telah mengintegrasikan prinsip keberlanjutan. Dampak dari aksi kepemilikan tersebut dapat dimonitor melalui laporan keberlanjutan perusahaan dan peringkat ESG dari lembaga pihak ketiga. Kedua, diskusi turut membahas risiko politik terhadap ESG, khususnya dampak dari kebijakan deregulasi di Amerika Serikat yang dinilai dapat mempengaruhi arus modal global ke instrumen hijau. PRI menegaskan bahwa meskipun terdapat hambatan geopolitik, transformasi menuju keuangan berkelanjutan tetap menjadi keniscayaan global. Dalam konteks ini, Asia dipandang memiliki posisi strategis untuk mengambil peran kepemimpinan, sebagaimana ditunjukkan oleh komitmen karbon netral serta pembangunan industri menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) berbasis green energy di China, kebijakan Green Transformation di Jepang, serta akselerasi kebijakan hijau dan pajak karbon di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Diskusi dipandu oleh Erik Argasetya, selaku moderator dan Bendahara APII, yang juga menyampaikan bahwa forum ini menjadi momentum strategis bagi APII dalam memperkuat komitmennya terhadap tata kelola investasi yang berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa transformasi menuju ekosistem keuangan yang bertanggung jawab memerlukan upaya kolaboratif, penyusunan kebijakan internal yang progresif, serta keterlibatan aktif dalam forum global seperti PRI,” ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa APII akan terus mendorong anggotanya untuk dapat memahami bagaimana kebijakan investasi bertanggung jawab (responsible investment policy) yang terukur dan adaptif terhadap konteks nasional, termasuk memperkuat proses due diligence, seleksi manajer investasi berbasis ESG, serta peningkatan kapasitas dalam menjalankan fungsi stewardship guna memperkuat akuntabilitas pasar keuangan Indonesia.
Pertemuan ini dihadiri oleh pengurus APII, antara lain Ketua, Muthia Iskandar; Wakil Ketua, Ade Yusriansyah; Sekretaris, Alvin Komala; serta perwakilan anggota dari berbagai institusi dan perusahaan keuangan nasional. Forum ini memperkuat komitmen APII untuk terus berkontribusi dalam membangun ekosistem investasi yang inklusif, tangguh, dan berorientasi jangka panjang demi mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Syakir Ari Utomo
Departemen Komunikasi dan Relasi
Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII)